Kamis, 17 Oktober 2013

My Own Bucket List

visit Santorini, I did in May 2016, even though it's cloudy and rainy when I got there, but this island is still gorgeous and very romantic

backpacking to Brazil

visit Camp Nou and Barcelona, finally one of my dream came true in May 2016

stay in hostel, when I visited Manila in November 2013, I've decided to stay in hostel for 2 nights, and it's a new experience for me

take a photo infront of Santiago Barnebeu with Barca jersey, I did it in May 2016, yeesss!! with an offensive pose, I will tell the story later

get diving license, finally got it in September 2013, read here

skydiving in New Zealand, almost did it in March 2017, but it has been cancel because of bad weather :(

learn surfing

party in Ibiza

watch World Cup match

visit Machu Picchu

meet and dive with Mola-mola

take a photo with FC Barcelona player, well..not all the player, but one of them, read here

wear bikini, I did it first time in Boracay, Phillipines, November 2013 and I feel free and awesome :D

visit India and have a photo with saree in there, well in March 2014, I came to taj Mahal, wearing Indian traditional costume, but not saree

watching live Coldplay concert

diving in Rajaampat

seeing Himalaya, in March 2014, when I visited Nepal

cherry blossom experience in Japan

visit Hobbiton, in March 2017 I visited New Zealand, but it was a rush time, maybe I'll come back later with private tour, Ameenn..

do Harry Potter trip, Universal Studio and Warner Bros studio

visiting Sherlock's home in Baker Street 22B

umroh and Hajj


Senin, 07 Oktober 2013

Finally, I'm an Open Water Diver

Akhirnya saya mendapat sertifikat Open Water Diving, setelah beberapa kali mencoba diving, walaupun saya sudah jatuh cinta sejak diving pertama (eeaaa..). Sudah sejak akhir Juni saya mengikuti kursus untuk menjadi seorang licensed diver, mulai dari kelas teori, ujian teori, sesi kolam sampai sesi laut. Normalnya dari mulai teori sampai sesi laut bisa selesai dalam 1 bulan, tapi karena saya sibuk (tssaaahhh..) dan kepotong bulan puasa (ngeleess :p), akhirnya saya baru bisa mengikuti sesi laut pada 21-22 September 2013. Bagaimana lengkapnya tentang trip open water saya dibahas di cerita lain yaaa..

Seperti saya tulis di blog ini, sebelumnya saya pernah mencoba diving, dan sebenarnya tidak ada masalah dengan melakukan diving tanpa mempunyai license. Tapi saya mempunyai beberapa alasan untuk akhirnya memutuskan ikut kursus ini:

1. biaya untuk licensed diver lebih murah daripada non-licensed diver
walaupun sama-sama didampingi, tapi kalau sudah ber-licensed dianggapnya kita bisa menjaga diri dan tau tindakan pertama apabila terjadi apa-apa dengan diri kita, dan buddy tidak terus-terusan "keep eye on you" 

2. saya merasa masih belum bisa menjaga attitude dalam air
daya apung masih belum stabil, kaki masih suka nendang karang, tangan masih sering ngayuh, saya jadi mengerti definisi "diving kayak bebek kena potas"-nya Trinity, hehehe

3. saya masih belum tau teori-teori dalam diving
simpel aja, saya belum mengerti caranya mask clearing, bahkan waktu di Kupang, saya nekat melanjutkan diving dengan masker foging yang sangat mengganggu, padahal saya sengaja beli merk aqua lung loohh

Mendapat rekomendasi dari teman saya, akhirnya saya mendaftar di DO Adventure yang bertempat di kolam renang Senayan, dengan sertifikasi SSI. Saya sangat merekomendasi belajar disini, karena selain pengajarnya berpengalaman dengan harga termurah untuk sebuah sertifikat internasional. Mereka juga sering mengadakan dive trip ke beberapa tempat di Indonesia. Salah satu tanda saya berada di tempat yang tepat adalah saya menemukan teman-teman baru yang sejenis dengan saya.


 ini nih SIM (Surat Ijin Menyelam) saya, kece kaann? :p

catatan:
kalau mau tau info tentang DO Adventures, tanya-tanya harga kursus dan trip, atau sekedar kenalan dengan pengajarnya, silakan ke:
- FB: https://www.facebook.com/divingoceanadventures?ref=stream&hc_location=stream
- web: http://divingoceanadventures.com
- twitter: @Do_Adventures

Kamis, 19 September 2013

Mengejar Barcelona: Review Tur Pramusim Asia FC Barcelona 2013, Kuala Lumpur

Saat gosip Barcelona akan mengadakan tur pramusim ke Asia, saya sangat antusias dan menantikan idola-idola saya bermain di Indonesia. Saya yakin tim kesayangan saya tersebut akan mengunjungi Indonesia, mengingat jumlah fans yang sangat banyak, dan siapapun yang datang kesini, sudah pasti stadion akan penuh, makluummm..kita haus tontonan bola yang berkualitas akhir-akhir ini. Ternyata begitu pengumuman resminya muncul, Indonesia tidak masuk ke dalam Negara yang akan di kunjungi. Negara Asia yang beruntung itu hanya Cina, Thailand dan Malaysia

Waktu pelaksanaan yang berdekatan dengan lebaran dan tiket pesawat yang mahal tidak menghalangi niat saya untuk menonton langsung di Kuala Lumpur, Malaysia. Saya hanya berpikir, kapan lagi el Barca akan ke Asia. Demi hal tersebut saya menyisihkan sebagian gaji saya tiap bulannya, dan rela tidak ikut lebaran ke Payakumbuh. Saya berharap semua-nya terbayar begitu saya di Malaysia nanti.

  
 tidak sengaja menemukan Andres Iniesta di Petronas Tower

setelah sesaat melongo, akhirnya saya memberanikan diri meminta foto sama don Andres walaupun dijutekin bodyguard-nya, bodo aahh!!

believe me, he's very nice and also cute! matanya bagus yaa, gak nolak deh punya pacar kayak gini #eh

inilah beberapa pemain yang saya lihat, termasuk Victor Valdes

Waktu yang ditunggu akhirnya tiba, sampailah saya di Kuala Lumpur. Sebelum menukar tiket, saya menyempatkan diri ke Petronas Toower dan tanpa sengaja bertemu dengan beberapa pemain Barca, tanpa jaim saya langsung meminta foto bareng dengan Andres Iniesta dan Marc Bartra. Sama janjian dengan member Indobarca untuk nonton sesi latihan bersama, sedangkan untuk tiket pertandingan beda-beda tempat duduknya, sesuai kemampuan, hehehe. Sesi latihan dan pertandingan rencananya diadakan di stadion Bukit Jalil. Stadion ini terletak di pinggiran kota, tapi gampang dijangkau, tinggal naik LRT langsung berhenti di area stadion. Secara ukuran stadion ini lebih kecil dari Gelora Bung Karno, keadaan stadion-pun tidak lebih baik ya. Penonton yang mau nonton sesi latihan juga tidak banyak, sepiii..

yeeaayyy, tiket buat latihan dan pertandingan

  
alamaaakk, itu pemain tim kesayangan sayaaaa!

Awalnya sesi latihan berjalan lancar, kita puas melihat pemain dengan jarak sedekat itu, ada latihan penyerangan dan bertahan (jangan tanya detail ya, saya gak ngerti :D). Terlihat skill Messi yang ketawa aja bisa nendang bener, kece deehh, dan sama sekali tidak ada tanda-tanda dia cedera. Sampai pada akhir acara ada fans yang nekat meloncati pagar pembatas, masuk lapangan dan memeluk Neymar. Herannya tidak ada security yang berusaha mengamankan orang tersebut. Kejadian itu menginspirasi beberapa penonton melakukan hal yang sama, bahkan orang tersebut meminta bola yang akan ditendang Neymar ke arah tribun. Terlihat waja Neymar sedikit bete dengan penonton nekat tersebut, dan memilih tetap menendang kearah tribun. Ternyata tidak hanya yang sukses melewati pagar pembatas, ada juga yang gagal meloncatinya, dan jatuh ke parit sedalam kira-kira 4-5 meter, saya curiga kaki-nya patah karena dia tidak bisa jalan dan hanya terduduk di dasar parit. Sempat terdengar panitia mengeluarkan kata-kata yang tidak pantas karena kejadian itu. Saya akui, orang tersebut memang konyol, tapi si panitia tetap harus mengantisipasi kejadian-kejadian seperti ini dooong..

Messi and Neymar in one frame *pingsan

kalo ini udah tau doong, pacar saya, Cesc Fabregas dan Sergi Roberto (ini juga ramah nih, ketemu juga tadi waktu bareng Bartra)

Malamnya saya dapat kabar kalau pertandingan akan dipindahkan ke stadion Shah Alam, karena pihak Barcelona kecewa dengan keadaan stadion dan pengamanan. Disini saya juga baru tau kalau mereka kecewa juga dengan service dari pihak penyelenggara. Sejak awal pesawat dibuat delay untuk menghindari fans, hotel dan makanan yang jauh dari standar, bus pemain yang layaknya bus pariwisata, dan puncaknya ya waktu latihan itu. Sempat beredar gossip kalau Messi tidak akan dimainkan karena cedera, heeehhh..cedera? dia baik-baik saja kok kemarin.

kameramen Barca TV yang tersita perhatiannya karena kita nge-chant

Kalau saya bilang stadion Bukit Jalil itu di pinggiran, maka ini lebih pinggiran lagi lokasinya. Pluuusss, tempat ini sulit dijangkau, terutama untuk wisatawan macam kita. Setelah turun dari kereta, kita harus menggunakan taksi lagi menuju stadion sekitar 10-15 menit. Tidak terlihat adanya angkutan umum yang lain, dan daerah sekitar sangat sepiii. Saya sempat berpikir, bagaimana cara kita pulangnya ya?. Beberapa member Indobarca ada yang sengaja menginap dekat Bukit Jalil agar dekat ke venue, dengan perubahan seperti ini, hal ini sangat merepotkan mereka. Dalam hati saya bersyukur tidak jadi menginap di daerah Bukit Jalil.
Kalau dibandingkan stadion Bukit Jalil, stadion Shah Alam memang lebih besar, dan dari jauh terlihat rumputnya lebih bagus. Tapiiii, panitia tampak belum mempersiapkan kepindahan stadion ini dengan baik, tempat duduk kategori 1 dan kategori 2 digabung tanpa ada pemisah yang jelas. Kerugian ada di pihak pembeli tiket kategori 1 yang mengharapkan tempat duduk yang nyaman dengan membayar lebih mahal, tapi ujung-ujungnya disamakan dengan pemegang tiket kategori 2, termasuk teman-teman Indobarca pemilik tiket kategori 1 yang harus menonton dari jatah bangku kategori 2.
stadion Shah Alam

beberapa penonton di Shah Alam

Tak lama pertandinganpun dimulai, para pemain Barcelona terlihat bermain kurang serius, yang kemungkinan besar karena masih kecewa dengan panitia penyelenggara. Terlihat Messi di bangku cadangan menggunakan sandal, yang membuat perasaan saya tidak enak, jangan-jangan Messi tidak akan dimainkan pada laga kali ini. Sepanjang pertandingan, saya melihat beberapa pemain Malaysia berlaku kasar, bahkan sampai memancing emosi Cesc Fabregas. Pertandingan terasa garing karena tidak ada penonton Malaysia yang melakukan chant, hanya teriakan-teriakan kecil saat ada peluang. Dari bangku saya menonton, terlihat teman-teman Indobarca meneriakkan chant dengan semangat, plus dapet bonus sorotan kamera. Ketika babak kedua dimulai, penonton mulai meneriakkan nama Messi, terus berlangsung sampai menjelang menit ke 85, tapi semua hanya harapan saja, Messi tidak dimainkan sampai akhir pertandingan. Karena kekecewaan ini, beberapa penonton meninggalkan stadion sebelum pertandingan selesai, dan puncaknya ketika peluit dibunyikan, mereka meneriaki “booooo” ke para pemain Barcelona, juga melemparkan kipas CIMB yang dibagikan diawal pertandingan. Jujur, sayapun kecewa Messi tidak bermain, tapi saya lebih kecewa dengan buruknya kinerja panitia penyelenggara.

maaf ya blur, zoom maksimal banget ini

papan penunjuk skor-pun sempat salah, awalnya diatas, kemudian diperbaiki jadi yang dibawah (ada yak tanding bola bisa diralat? hehehe)

Saya pesimis Barca akan mau mengadakan tur Asia kembali, terutama di Malaysia lagi. Tapi sayaberani bertaruh andaikan diadakan di Indonesia, hal tersebut tidak akan terjadi, hampir semua tim yang pernah ke Indonesia merasakan seperti bermain di stadion asalnya. Malaysia sudah menyia-nyiakan kesempatan emas yang diperoleh dengan mendatangkan El Barca.

saya di stadion Shah Alam, muka puas ato kecewa hayooo???

Setelah kami keluar dari komplek stadion, terlihat banyak penonton yang terlunta-lunta menunggu taksi. Sesekali taksi datang kalau gak langsung diserbu, pasti sudah dipesan penonton lain. Ini termasuk salah satu yang tidak dipikirkan panitia, transportasi untuk para penonton dari luar Malaysia seperti kami. Setelah hampir setengah jam, akhirnya Coni, salah satu member Indobarca menghubungi taksi yang mengantarnya tadi, untuk menjemput kami. Kira-kira jam 1.30 kami akhirnya kami sampai di Pasar Seni.

 
 beberapa anggota Indobarca yang menonton sesi latihan


Sabtu, 14 September 2013

Melepas Rindu ke Kupang

Bulan Mei 2013 kemarin, saya mendapat kesempatan kembali ke Kupang, sebenarnya dalam rangka seminar, tapi bisalaaahh explore sedikit. Tujuan saya kali ini salahsatunya untuk diving, karena masih euforia setelah diving di Wakatobi. Sebelum hari keberangkatan, saya googling tentang diving di Kupang, hanya Mr. Donovan saja yang menyediakan tur diving di Kupang, setelah saya kirim email, ternyata pada tanggal saya disana, beliau berencana diving di Alor. Sayapun melemparkan pertanyaan di couchsurfing, ternyata ada lagi layanan penyedia dive trip, letaknya di kolam renang Wirasakti, tapi tidak ada nomor kontaknya.

Setelah sampai Kupang, saya pergi menuju kolamrenang Wirasakti untuk bertanya, ternyata penjaga kolam renang tersebut seorang pensiunan angkatan laut, sekaligus diver, bernama pak Luis. Beliau janji mau memberi kabar setelah konfirmasi dengan atasannya. Saya berharap diving di laut Kupang bisa terlaksana, karena terlalu indah untuk sekedar dilihat dari permukaan saja.

Hari pertama dan kedua diisi full seminar, hanya makan malam diluar, termasuk di Kampung Solor, pusat kuliner malam. Kalau kesini jangan lupa mencoba seafood-nya, yummy!! Saya makan malam bersama dokter senior kenalan saya yang sekarang menjabat sebagai kepala RSUD Rote Ndao, pak Mulat, beserta istrinya, kak Yanti.

bersama salah satu pembicara, dr. Peter, niihh buktinya kalau saya seminar

bersama alumni Unpad, Puri dan Caplin, yang masih mengabdi sebagai dokter gigi PTT di NTT

panitia seminar berfoto bersama pembicara yang juga mantan dosen saya, drg Taofik Hidayat

  
 kalau ini Pak dr. Mulat beserta istrinya, Kak Yanti, yang malam itu mentraktir saya makan seafood yang super uenaaakkk

Hari ketiga saya seminar hanya setengah hari, dan setelahnya saya berencana explore Kupang beserta Puri, Caplin, dan Melissa. Tempat pertama yang kami kunjungi adalah Goa Kristal. Begitu masuk mulut goa, untungnya danau sudah terlihat, di alam sini saya merasakan suasana mistis, padahal penerangan tidak terlalu gelap, jarang-jarang saya seperti ini, hehehe. Melihat air yang bening seperti ini, saya ingin sekali berenang, tapi karena perasaan saya gak enak, terpaksalah mengurungkan niat tersebut.

Goa Kristal, paling cucok kalo kesini jam 10-11 pagi, cahayanya pas dan mungkin belum terlalu mistis #eh

Perjalanan dilanjutkan ke Pantai Lasiana, karena cacing di perut udah teriak-teriak, makanlah dulu kami di OCD Cafe, yang letaknya tepat di pinggir pantai Lasiana. OCD ini yang punya om Ody Mesakh, anggota couchsurfing juga, sayangnya pas saya kesana beliau tidak ada. Interior-nya cozy banget, dan terlihat kalau pemiliknya berjiwa seni tinggi, ada perahu kecil lengkap dengan dayungnya, topi dan sasando. Bahkan di suatu sudut cafe terdapat pojok akustik dadakan. Makanannya juga lumayan enak (apa lapeerr? :D), bahkan minum air kelapa sambil duduk santai menikmati angin laut, suara ombak berpadu musik terasa nikmaaatt banget. Lain kali kalau ke Kupang lagi, saya akan mengunjungi tempat ini lagi.

OCD cafe tampak depan, sebenarnya banyak foto-foto interiornya, tapi saya bahas di chapter lain saja yaa

berpose di pantai Lasiana, dibandingkan pantai lain di NTT, tempat ini sih termasuk yang "biasa" :D

Setelah perut kenyang, perjalananpun dilanjutkan menuju air terjun Oenesu. Sebenarnya sudah sejak lama saya pengen kesini, tapi terbentur waktu yang tidak memungkinkan karena biasanya ke Kupang hanya persinggahan sebelum ke Rote. Akhirnya di tahun 2013 ini keinginan saya bisa terwujud. Air terjun ini terletak sekitar 17km dari kota Kupang, dengan jarang tempuh 45 - 60 menit. Begitu memasuki area air terjun, hawa air bercampur anging langsung menyapu wajah kami, menandakan debit air cukup deras. Iseng saya menjilat bibir, rasanya tawar, hehehe. Kalau menurut saya air terjun ini fotogenik loh, setelah saya memotret dan melihat hasilnya di layar kamera, terlihat cantik sekali, andai view kamera diperluas, terlihatlah serakan sampah dan runtuhan kayu pohon di sekeliling air terjun.

air terjun Oenesu yang fotogenik

Karena saat bertolak dari Oenesu sudah sore, maka kami terlambat untuk mendapatkan sunset di pantai Tablolong. Saya membaca dari beberapa blog, kabarnya pantai ini lumayan bagus untuk snorkeling di beberapa spot. Pantai ini berjarak kurang-lebih 25 km dari kota Kupang, dan terletak di kabupaten Kupang Barat. Saat kami tiba langit sudah gelap dan pantai sedang surut, tapi masih banyak orang lokal yang bercengkrama setelah menikmati suasana after-sunset.

Menjelang kepulangan saya ke Jakarta, pagi harinya saya berkesempatan menikmati diving di dermaga Lantamal. Atasan Pak Luis, yaitu Kolonel Asep-lah yang menjadi dive-buddy saya hari itu. Dari beliau pula saya tahu kalau keluarganya diver semua, bahkan anaknya yang masih duduk di bangku sekolah sudah mengantongi open-water license, hebaaattt!!. Sayapun bercerita betapa sulitnya menemukan dive operator disini, dan beliau dengan senang hati menawarkan kalau ada yang mau menyelam di Kupang bisa menghubungi beliau saja.

inilah tujuan sebenarnya saya ke Kupang :D

start point-nya gak jauh-jauh, cukup dari dermaga, lautnya cantik yaaaa

Pak Luis dan Pak Kolonel Asep, kalau mau diving di Kupang silahkan hubungi beliau-beliau ini

underwater Kupang yang bersih, banyak terumbu karang dan ikan, ini di kedalaman 15meter

Pak Asep sedang beraksi di dalam air

 setelah menyelam, wajahpun segar kembali

Secara keseluruhan, kunjungan kembali ke Kupang ini sangat berkesan, orang-orangnya masih ramah, alamnya masih indah, lautnya masih cantik, dan seafoodnya masih yummy! daaannn.. kali ini saya berkesempatan mengunjungi tempat yang belum sempat saya kunjungi sebelumnya.

 bandara kupang dengan sasando raksasa (yang sayangnya kepotong)

note:
* jangan lupa makan seafood di kampung solor, segar dan lezaaattt!!
* buat yang dananya gak cukup untuk beli kain tenun NTT, bisa mencoba beli kain batik motif NTT di depan Polda Kupang, ada 2 toko kain, keduanya murah, bagus, dan banyak pilihan
* yang mau menyelam bisa menghubungi saya lewat email, nanti saya kirimkan nomor kontak Pak Luis dan Pak Asep
* hari minggu, kebanyakan toko tidak buka sejak pagi karena semua pergi ke gereja, baru buka lagi siang hari menjelang sore


Jumat, 30 Agustus 2013

Solo Traveling Menuju Wakatobi (bag. 5: Hard to Say Goodbye to Tomia)

12 Maret 2013

Hari ini waktunya saya meninggalkan tempat cantik yang sangat berkesan di perjalanan singkat ini. Sehubungan dengan insiden smartphone dan hape saya yang terkena air laut, saya memutuskan untuk pulang dengan pesawat dari Wanci besok bersama dengan sebagian tim Kompas TV. Sulit membayangkan harus terombang-ambing 9 jam diatas kapal tanpa alat komunikasi.

Hari Selasa pagi kebetulan ada kapal menuju Wanci, dijadwal sih jam 10 pagi, tapi kenyataannya biasanya menunggu pasang dulu, paling cepat jam 11 baru berangkat. Karena sudah selesai packing dari jam 8, dan tim Kompas TV masih belum pada bangun, saya meminta bantuan Ningsih untuk menemani explore daratan Tomia, kali ini saya dibawa Ningsih ke pantai Huntete. Letaknya lumayan jauh sih, untungnya saya bersama orang yang tepat. Sebelum mencapai Huntete, Ningsih memberhentikan motornya di dekat tebing yang dibawahnya laut biru, yang manggil minta disinggahi.

   
ini dia tebing yang dikasihtau Ningsih yang bikin saya bengong selama beberapa detik

Karena mengejar waktu dan dijanjikan jalur pulangnya melewati Puncak Kahyangan kembali, kami tidak menghabiskan waktu lama disana. Tidak lama kemudian sampailah saya di pantai yang sangat landai dihiasi banyak pohon kelapa. Sayang pantai tersebut sedang surut, saya yakin kalau pasang pasti indah, aahh.. seandainya saya punya waktu lebih lama disini.

percayalah, langit seperti ini adalah hal yang biasa di Tomia 

Akhirnya saya menuju tempat favorit saya di Tomia, Puncak Kahyangan. Jujur, saya tidak memasang ekspektasi tinggi melihat Puncak di pagi hari, karena biasa aja kan ya, palingan cuma padang rumput hijau. Ternyata begitu sampai disana, semua diluar harapan saya, suasana Puncak pagi hari tidak kalah cantik dengan sore hari. Hamparan hijau yang sedikit menguning dipadu latar laut biru, sungguh-sungguh menarik dan layak diperjuangkan, kalau Puncak ini ibarat cowok, saya sudah naksir berat!

  
puncak Kahyangan di pagi hari, liat itu laut yang jadi latarnyaaa, aahhh..

Sampai saya selesai explore daratan, kapal belum berniat berangkat juga. Akhirnya saya check-out dari penginapan dan menunggu di penginapan tim Kompas TV. Sekitar jam 11.30, baru kita dapat kabar kapal akan berangkat sebentar lagi. Di kapal kita semua songong memilih duduk diluar, yang akibatnya kulit menghitam rada kemerahan, alias gosong, hehehe. Perjalanan Tomia - Wanci sekitar 3jam, kapal sempat berhenti di pulau Kaledupa, saya kira kapal akan merapat, ternyata perahu-perahu kecil yang nyamperin kapal kita. Sempet syok menyaksikan proses menurunkan motor ke perahu kecil, mirip caranya dengan kita menurunkan gayung saat menimba air, bedanya ini motor bookk yang diturunin, dan bisa loohhh. Penduduk lokal terlihat cuek aja, tandanya hal ini sudah biasa buat mereka.


  
 kapal yang membawa saya ke Wanci, namanya Dito Wakatobi, tarifnya 100ribu rupiah

  
 gaya-gayaan duduk diluar kapal, dari ki-ka: Iqbal, Aris, Bang Rian, dr. Yudi dan saya

Kesan pertama saat menepi ke Wanci adalah, rameee, banyak rumah, dan dilempar pertanyaan sama tukang ojek: "asli Tomia mbak?" #jleb. Saya langsung diantar sama tukang ojek songong ini menuju agen travel kenalannya Pak Haji, dan ternyata flight Wanci-Makasar udah gak ada dooong, lemes rasanyaaa, berarti saya harus naik kapal malam menuju Baubau malam ini. Daaannn, saya tidak bisa nonton pertandingan leg ke-2 piala Champion Barca - Milan, aaarrrgggghhh..

Datanglah saya ke hotel Wisata, tempat Kompas TV menginap, karena lapar makanlah kita di restoran di hotel tersebut. Makanannya enaaaakkk (apa laper yak?), walopun sempet nunggu lama nih cacing di perut saya. Kenyang makan saya dipinjemin salah satu kamar buat mandi dan istirahat unyu. Jam 20.00 saya diantar ke pelabuhan untuk naik kapal Wanci - Baubau, untungnya di kapal ini saya dapet kamar ABK, kondisinya sih seadanya yaa, tapi paling gak saya gak tercemar asap rokok orang-orang. Begitu kasur dialasi sarung bali, saya langsung tidur, untungnya saya bawa sarung bali cadangan sebagai selimut saya, karena saya tidak bisa tidur tanpa ada yang menyelimuti badan (selimuti aku dengan cintamu dong, afgan *loh).

Jumat, 07 Juni 2013

Solo Traveling Menuju Wakatobi (bag. 4: I'm in Love with Tomia and Diving)



10 Maret 2013

Biasanya saya kalo lagi traveling seneng banget bangun pagi (tapi kalo sampe ngejar sunrise sih masih belom bisa, hehehe). Saya langsung siapin perlengkapan tempur buat ngelaut, dengan perasaan masih gak karuan ngebayangin diving. Bisa gak ya saya diving, bakal nemuin apa di dalem, gimana kalo saya panik, dan ketakutan-ketakutan lain yang menyertai. Selesai siap-siap saya sarapan di penginapan, nasi goreng plus telor, lumayanlah buat asupan energi buat seharian di kapal. Jam 6.30, dr. yudi dateng dan bilang kalo nanti kapal berangkatnya sekitar jam 8.00, trus abis itu dia ngilang lagi (belakangan baru saya sadar kalo dr. Yudi ini sering dateng dan tiba-tiba ngilang, hayolooohhh). Jam 7.30, Taufik dateng ke penginapan, dia memutuskan untuk ikut diving bareng dr. Yudi juga, gak lama dr. Yudi dateng lagi buat jemput kita ke kapalnya. Di kapal udah menunggu beberapa orang yang berasal dari Kompas TV dan satu orang perempuan yang ternyata solotraveler juga dan tinggal di penginapan saya juga.

Tipikal orang media, rame, lucu, dan gampang akrab, saya yang awalnya malu-malu, lama-lama jadi malu-maluin, hehehe. Dari hasil ngobrol-ngobrol, mereka ini lagi liputan untuk acara Teroka, yang host-nya Cahyo Alkantana (tapi sang host udah pulang duluan, krn Tomia adalah spot terakhir). Si female solotraveler, Natisha, cerita kalau ini adalah pengalaman kedua dia solotraveling, yang pertamanya ke Komodo, dan dia gak kapok tuh. Tuuhhkaann, ternyata saya gak aneh kan kalo nekat solotraveling, hehehe. Di spot pertama saya belum ikut turun, karena mereka mengincar hiu di kedalaman 20 meter kebawah, jadi untuk pemula macam saya belum boleh, akhirnya saya dan Taufik snorkeling di sekitar kapal aja. Begitu kepala dimasukin ke air, gileeee..spot snorkelingnya aja bagus banget begini, gimana diving yak. Coralnya masih sehat dengan warna-warni yang cantik, bikin pengen megang, tapi sayangnya dilarang ya, daripada coralnya rusak. Gerombolan ikan juga hal yang biasa waktu snorkeling, mereka kayaknya gak canggung didatengin pendatang macem saya. Lucu! :D. Gak kerasa udah hampir sejam saya snorkeling, saya disuruh naik ke kapal karena rombongan diver udah muncul ke permukaan.

 
alam bawah laut saat saya snorkeling

Kapal melaju menuju spot berikutnya, Fan 38. Sebelum turun, saya dan Taufik di briefing dulu tentang kondisi umum dalam laut dan bagaimana kita menghadapinya. Karena dr. Yudi sendirian, jadi hanya bisa membawa satu orang untuk discovery diving. Akhirnya diputuskanlah kalau Taufik yang mendapat giliran pertama (aduuhh, makin deg-degan nih saya). Setelah menunggu beberapa lama, tibalah giliran saya, pasang pemberat, masker, BCD, dan fin yang terakhir, setelah dilaut, beban berat langsung tidak terasa. Saya mencoba menghirup udara dari regulator, tapi panic melanda, saya seakan-akan tidak bisa bernapas, cukup lama juga saya terserang rasa panic gak bisa napas ini, untungnya dr. Yudi sabar ngasih semangat (mmm..kayaknya sih sebenernya dia udah gregetan pengen menenggelamkan saya). Akhirnya setelah saya mencoba, dan sudah tidak panik, saya langsung dibawa menuju hamparan dinding coral warna-warni. Subhanallooohh, keindahannya membuat saya lupa kalau saya tadinya panic gak bisa napas. Ikan bersliweran gak peduli kalau ada alien yang masuk ke dunianya. Di kedalaman 12 meter, dr. Yudi memberi tanda kalau ada penyu di samping kanan saya. Begitu saya nengok, makhluk lucu itu lewat dengan anggunnya, seolah terlukis senyuman di wajahnya. Kita pun berenang mengejar si penyu, sampe kedalaman 15 meter dan dia berbelok ke bluewater. Saat itu juga saya langsung ditarik dr. Yudi kembali ke 10 meter. Hamparan koral tanpa ujung dan tarian ikan-ikan, membuat saya lupa kalau saya ada di dunia lain, dunia bawah laut yang untuk sebagian orang menakutkan, begitu menarik buat saya. Setelah  saya dibawa ke permukaan, saya tidak sadar kalau sudah 45 menit saya berada di “dunia lain”.

 
sayang ya maskernya mesti bocor :(

Perasaan saya diving pertamakali itu kayak janjian blind date, dan ternyata menemukan kalo orangnya ganteng dan nyambung sama kita, didukung tempat yang romantis, gak bakal lupa deh sama kencan pertamanya (tapi saya belum pernah blind date sih :p). Di kapal, dr. Yudi kasih review tentang penyelaman pertama saya. Ibaratnya raport, mungkin sebanding dengan beberapa angka merah kali yaa, hehehe.. saya disarankan untuk lebih rileks lagi di dalam air, belajar berenang lagi, kayuhan kakinya juga se-efisien mungkin, dan masalah utamanya adalah buoyancy atau keseimbangan badan di dalam air, okey..noted!

Begitu menyentuh daratan, baru terasa kalau badan saya lelah luar biasa. Setelah mandi dan bebersih, saya berkumpul bersama tim diving tadi siang di Hotel Terapung, tempat mereka menginap. Obrolan mengalir begitu saja, mulai dari membahas diving sampai Nicholas Saputra. Dibandingkan mereka-mereka ini, travel log saya paling sedikit, bahkan Natisha, ke Tomia bukan pengalaman solotraveling-nya yang pertama, sebelumnya pernah ke Komodo sendirian juga, aduuhh..minder saya! *ngumpet. Ujung-ujungnya, tim Kompas TV meracuni saya, Natisha dan Taufik yang seharusnya besok berangkat menuju Wanci, untuk extend 1 hari lagi di Tomia daripada menghabiskan 1 hari di Wanci. Jujuurrr, pilihan yang berat buat saya. Natisha sih harus masuk kantor lusa, sedangkan Taufik sudah janjian dengan temannya di Wanci, naahh..saya nih yang masih galau.

Semalaman saya berpikir plus bertanya ke teman saya yang pernah di Wakatobi, akhirnya saya memutuskan untuk extend 1 hari di Tomia. Alasannya saya jatuh cinta dengan underwater Tomia. Saya masih mau belajar menyelam lagi, mumpung sedang berada di surganya penyelam. I’m still here, Tomia..

 
dermaga Tomia, tempat semua berawal dan berakhir


11 Maret 2013
 

Saya bangun dengan senyum, hari ini saya akan menyelam lagi, yeeaayy.. Saya mempersiapkan bawaan untuk diving plus sarapan. Setelah siap, saya, Natisha dan Taufik menuju Hotel Terapung dulu untuk berkumpul sebelum mereka berangkat ke Wanci. Ternyata dr. Yudi dan 2 orang dari tim Kompas TV sedang menyelam dari pagi tadi (khusus advanced diver sih ini :p), nanti sekitar jam 10 mereka kembali untuk menjemput kita yang beginner, hehehe..

Saat mendengar kabar kalau kapal menuju Wanci akan berangkat, saya, Taufik, Natisha, Iqbal, Aris, dan Bang Inul segera menuju pelabuhan, untuk mengantar Taufik dan Natisha, sekaligus foto-foto sebelum mereka berdua berangkat.


 menjelang kepulangan Taufik dan Natisha

Hampir jam 10.30, kapal dr. Yudi datang, kali ini giliran kita yang bertolak dari dermaga menuju spot diving, yippiiieee!! Spot yang saya singgahi kali ini adalah Magnifica, Mari Mabuk dan Roma. Underwater-nya tidak sedalam kemarin tapi tetap cantik, masih dengan warna-warni coral (termasuk seafan coral yang berlimpah itu),  ikan-ikan yang lucu yang kayaknya tidak tampak terganggu dengan kehadiran kita disana, dan diving kali ini pula saya dapet bonus difotoin bang Rian (produsernya acara Teroka Kompas TV) waktu lagi diving. Bisa dibilang diving hari ini saya puaaasssss bangeetttt!!!

 


saya dan seafan yang banyak banget di Tomia


Kalau pepatah bilang "tak ada gading yang tak retak", itu bener bangeett deh. Kesempurnaan hari ini ternoda dengan drybag saya yang bocor, dan mengakibatkan hape, blackberry dan powerbank saya mati total, hiks :((. Alhasil seharian itu saya tidak bisa update status (tetep yeee :p) dan tidak bisa dihubungi, hampir semua keluarga saya di jakarta panik, ya iyalaahhh..

anggota dive trip dari Kompas TV

Untungnya kesialan hari ini tidak membuat saya menyesal untuk extend di Tomia, karena ya mau gimana lagi yaaaa, namanya juga musibah (padahal nangis di pojokan, hehehe), tapi pengalaman yang saya dapat hari ini jauh lebih berharga. Saya semakin banyak tau spot-spot diving di Tomia, teknik menyelam saya juga mengalami kemajuan, dan saya juga memiliki foto underwater yang kece :p